Minggu, 25 Agustus 2013

Catatan Perjalanan

Kita pernah sesekali lupa terhadap diri kita sendiri, di dalam setiap kejenuhan aktifitas dan sesaknya bernafas di perkotaan.

Saya sendiri, setahun yang lalu, sesekali menerjunkan diri ke dalam zona ketidak-nyamanan. Ya, saya pergi sendiri. Sialnya sendiri, tidak tahu harus siapa yang bisa saya ajak untuk berpergian mengikuti nafsu kegilaan, keingintahuan dan penjelajahan yang seharusnya mudah saja bagi seorang lelaki. Maka saya melangkahkan kaki saya.

Manado, 2012, bukanlah hal yang sulit dicapai. Mungkin memang dulu kakek moyang saya adalah pelaut yang mengarung-arungi dari satu pulau ke pulau berhari-hari, tidak lupa diterjang badai pula, pusaran air atau bajak laut. Tetapi tidak kali ini, saya hidup di 2013 yang naik haji pun tidak perlu berangkat berbulan-bulan. Beruntunglah ayah saya bekerja di salah satu perusahaan yang menginduk pada maskapai penerbangan. Alhasil, 4 tiket gratis saya peroleh setiap tahunnya.

Setahun yang lalu, di bawah langit, dihembus-hembus angin utara, kota Manado cantik dengan lampu-lampu bergeliat terang benderang. saya sendiri hanya menikmati, merebahkan diri pada bebatuan di pinggiran laut, menengadahkan wajah kepada bintang-bintang. Tidak biasa, bagi saya tidak biasa berpegian sendirian. setelah seharian mencari penginapan tentunya saya sudah lelah pada malam itu.

Antara nadi dengan nadi kami bertemu saya dan langit pada malam itu. Entah mengapa seakan kegaduhan hanya memuncak pada sepi. kemudian berakhir pada sebuah ranjang single di penginapan. saya melepaskan kepenatan dengan melepaskan semuanya..

Selasa, 19 Februari 2013

Rima

Anda tidak akan pernah tahu bagaimana kerja takdir dan rencana kilat seseorang berhasil mempertemukan saya dengan orang ini, rima. Pagi itu, menjelang siang tepatnya, Jakarta sudah sibuk dan jauh dari kata lenggang. Meskipun demikian, rasa dingin masih dapat entah kami semua rasakan atau saya sendiri saja di jalan Denpasar di depan kantor Kedutaan Besar Singapura. Entah bagaimana, terbawa pergaulan atau apa, mata ini sudah cukup pandai memindai di tengah keramaian.

"Nah! Itu dia!" Teriak saya dalam hati setengah kegirangan.

Kebetulan saya tidak datang sendiri ke tempat itu. saya dengan ketiga orang teman saya datang ke tempat ini. Tetapi, ayolah, lupakan dengan siapa saya datang ke tempat ini. Kami semua yang berkumpul di depan kantor ini bertujuan mengikuti tes seleksi penerimaan beasiswa. Ya, walaupun hasil akhirnya jadi berbeda nanti.

Waktu itu dia mengenakan baju berwarna hitam dengan jaket biru, datang di antar oleh ayahnya yang lekas pulang segera. Tidak mungkin terlihat biasa jika sampai saya ceritakan dalam kisah ini. Ada beberapa hal yang tak perlu saya gambarkan mengenai dia, cukup satu kata; "Istimewa" seperti sungai Nil di Mesir ataupun seperti melihat meteorit yang jatuh tepat di halaman belakang.


Sejauh ini kita hanya melihat bagaimana takdir bekerja, selanjutnya adalah bagaimana rencana kecil, siasat anak manusia berjalan. ketika hidup adalah pilihan dan kita sebenarnya disuguhkan beberapa pilihan takdir-takdir yang harus kita tentukan sendiri.

"Tempat tes-nya dimana ya?" tanyanya pada saya.
"Oh, kesitu aja lurus terus nanti nanya lagi." seru saya sambil menunjuk ke belakang karena sebenarnya saya pun tidak tahu dimana tempat tes pastinya.

kebetulan saja, saya yang terlebih dahulu sampai di dalam pos penjagaan yang cukup agak sedikit ketat dan saya berdiri menunggu tidak untuk masuk ke dalam terlebih dahulu menunggu teman-teman yang kami datang bersama.

"gw angga." coba saya perkenalkan diri sembari menyodorkan tangan.
"owh, rima." sahutnya menjawab perkenalan kami.
"ngambil apa disini?" tanya saya.
"fisika, computer science di NTU."
"owh, samalah berarti kita."

tak lama, bertambah orang masuk ke dalam selepas di pos pemerikasaan di depan. teman-teman saya pun datang. kami pun masuk dan mengikuti ujian tes masuk tersebut seperti umumnya.