Kita pernah sesekali lupa terhadap diri kita sendiri, di dalam setiap kejenuhan aktifitas dan sesaknya bernafas di perkotaan.
Saya sendiri, setahun yang lalu, sesekali menerjunkan diri ke dalam zona ketidak-nyamanan. Ya, saya pergi sendiri. Sialnya sendiri, tidak tahu harus siapa yang bisa saya ajak untuk berpergian mengikuti nafsu kegilaan, keingintahuan dan penjelajahan yang seharusnya mudah saja bagi seorang lelaki. Maka saya melangkahkan kaki saya.
Manado, 2012, bukanlah hal yang sulit dicapai. Mungkin memang dulu kakek moyang saya adalah pelaut yang mengarung-arungi dari satu pulau ke pulau berhari-hari, tidak lupa diterjang badai pula, pusaran air atau bajak laut. Tetapi tidak kali ini, saya hidup di 2013 yang naik haji pun tidak perlu berangkat berbulan-bulan. Beruntunglah ayah saya bekerja di salah satu perusahaan yang menginduk pada maskapai penerbangan. Alhasil, 4 tiket gratis saya peroleh setiap tahunnya.
Setahun yang lalu, di bawah langit, dihembus-hembus angin utara, kota Manado cantik dengan lampu-lampu bergeliat terang benderang. saya sendiri hanya menikmati, merebahkan diri pada bebatuan di pinggiran laut, menengadahkan wajah kepada bintang-bintang. Tidak biasa, bagi saya tidak biasa berpegian sendirian. setelah seharian mencari penginapan tentunya saya sudah lelah pada malam itu.
Antara nadi dengan nadi kami bertemu saya dan langit pada malam itu. Entah mengapa seakan kegaduhan hanya memuncak pada sepi. kemudian berakhir pada sebuah ranjang single di penginapan. saya melepaskan kepenatan dengan melepaskan semuanya..